Senin, 19 Juni 2017

Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa :: Jalur Media Massa

Cara Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Media Massa

Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Media Massa- Peran besar media cetak, radio, dan televisi terhadap pemberdayaan bahasa dan sastra Jawa tidak dapat dibantah. Persoalan yang muncul adalah kaderisasi tidak berjalan dengan mulus, diakibatkan satu generasi telah hilang seperti yang disampaikan di depan. Generasi yang sekarang aktif mengelola media massa terlanjur kurang memiliki apresiasi yang cukup terhadap bahasa, sastra, dan budaya Jawa; sehingga produk yang dihasilkan dipengaruhi oleh bekal yang dimilikinya.

Orientas siaran melalui media elektronik (radio dan teve) harus sesuai dengan
(1) kepentingan dan/kebutuhan publik,
(2) penyertaan publik,
(3) perekat budaya, dan
(4) ikut mengembangkan dan melestarikan budaya bangsa.
pemberdayaan bahasa dan sastra jawa

Sehubungan dengan itu perlu mengenal karakteristik publik yang sangat :heterogen (suku, agama, ras, dan usia), keragaman temperament (pemarah, sabar\), keragaman selera, keragaman latar belakang budaya , dll.
Kecenderungan selera/minat menikmati tayangan budaya Jawa di media elektronik dan juga membaca media cetak berbahasa Jawa biasanya didominasi oleh golongan orang dewasa (lansia), yang lazimnya harus sesuai atau sejalan dengan kultur/tradisi masa lalu, dan jam siaran lebih banyak diselenggarakan pada malam hari. Untuk itu produsen harus memilih format siaran yang diharapkan dapat mengundang reaksi positif khalayak.

Dikawatirkan 10 tahun ke depan seluruh media massa cetak akan berhenti terbit, menyusul pemilik modalnya telah meninggal. Para pemilik modal yang lebih muda, bekal apresiasi yang lemah, mungkin berpandangan penerbitan media berbahasa Jawa tidak memiliki fangsa pasar, akhirnya mengalihkan investasinya di bidang lain yang dianggap lebih menguntungkan. Seperti penerbit Tan Khoen Swie (dari Kediri) yang telah lama tidak produktif.

Cara Pemerintah Dalam Mengatasi Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Media Massa

Pemerintah daerah dapat memberikan dukungan riil, di antaranya dengan mewajibkan seluruh jajarannya, termasuk sekolah-sekolah, untuk berlangganan terhadap salah satu dari media massa berbahasa Jawa yang masih aktif. Dengan cara itu diharapkan dapat memberikan iur terhadap keberlangsungan dan menambah oplag media cetak. Dengan oplag yang besar dapat menghidupi media yang sekarang dalam serba keterbatasan. Kenyataanya sekarang adalah tinggal beberapa media ber¬bahasa Jawa yang hidup serba terbatas; jumlah, oplag, modal, penulis, jurnalis, dan pelanggan/pembaca, Selama ini, penulis di media ber¬bahasa Jawa sangat langka, disebabkan tidak memberikan imbalan yang menjanjikan. Padahal semua orang tahu, disebabkan terlanjur tidak terbiasa, menulis dalam bahasa Jawa jelas lebih sulit dan memerlukan proses waktu yang sangat panjang.
Sumber : Bambang Murtiyoso

Jangan lupa baca Cara Pemberdayaan Bahasa Jawa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Keluarga dan  pemberdayaan bahasa dan sastra jawa melalui jalur sekolah .
Demikian materi atau makalah tentang Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Media Massa yang mampu kami rangkum, semoga bermanfaat.
Terima kasih  

Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa :: Jalur Keluarga

Cara Pemberdayaan Bahasa Jawa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Keluarga

Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Keluarga - Sudah cukup lama peran keluarga tidak nampak dalam pemberdayaan bahasa Jawa. Sejak akhir dasawarsa 60-an, era pembangunan materi dicananngkan di negeri ini, seisi rumah sibuk urusan masing-masing; ayah dan ibu bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan lahir. Berbeda dengan saat pemakalah masih usia kanak-kanak dan remaja, hampir seluruh orang tua (kakek, nenek, ibu dan ayah) selalu menyempatkan diri untuk mendidik budi pekerti melalui dongeng sejarah dan cerita pewayangan; termasuk juga cara berbahasa Jawa yang benar. Semua ini tinggal masa lalu yang indah, yang langka kita jumpai sekarang.
pemberdayaan bahasa dan sastra jawa

Kunci Keberhasilan Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa Jalur Keluarga

Kunci keberhasilan pemberdayaan bahasa Jawa dalam jalur keluarga terletak di tangan ibu anak. Dengan demikian ibu disarankan untuk lebih berperan aktif, tidak sekedar membantu anak untuk mengerjakan PR (pekerjaan rumah) bahasa Jawa. Oleh sebab itu, seyogyanya calon ibu (lingkungan keluarga Jawa) juga dipersiap¬kan benar agar mampu berkomunikasi verbal dalam bahasa Jawa. Agaknya juga perlu mulai dipikirkan adanya penyusunan buku panduan praktis percakapan sehari-hari; antara anak dan anak, antara anak dengan ibu dan/atau bapak sebagai acuan bagi keluarga baru yang mudah dan sederhana. Dalam percakapan yang prakris ini dapat diselipkan hal=hal yang berkait dengan moral sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Bentuk-bentuk kuis, dengan mengguna¬kan bahasa Jawa antar keluarga, mungkin dapat diselenggarakan di berbagai media massa dan kegiatan peringatan 17-an. Persoalannya adalah, siapa relawan yang bersedia memulai berani menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, dan modalnya.
Sumber : Bambang Murtiyoso

Jangan lupa baca  pemberdayaan bahasa dan sastra jawa melalui jalur sekolah .
Demikian materi atau makalah tentang pemberdayaan bahasa dan sastra jawa melalui jalur keluarga yang mampu kami rangkum, semoga bermanfaat.
Terima kasih  

Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa :: JaLur Sekolah

Cara Pemberdayaan Bahasa Jawa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Sekolah 

Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa- Pelajaran bahasa Jawa di sekolah selama ini hanya termasuk dalam muatan lokal (mulok), sebenarnya, tidak menjadi masalah. Seluruh mata pelajaran sekolah yang bersifat budaya (humaniora) dan dianggap tidak memiliki nilai akademik, di negeri ini, selalu dimarginalkan. Hanya mata pelajaran tertentu—lazimnya yang diuji secara nasional saja—yang diunggulkan. Akibatnya, guru-guru bahasa daerah dan kesenian terpaksa mendapat status rendah dibanding dengan para pengajar ilmu eksakta yang berposisi lebih terhormat. Akibat lebih jauh. Minat untuk menjadi guru bahasa Jawa juga sangat rendah.
Pemaknaan bahasa Jawa sebagai muatan lokal semestinya tidak mandiri sebagai mata pelajaran tersendiri tetapi perlu diindiginasikan dengan mata pelajaran yang lain. Artinya, seperti yang terjadi di masa tahun 1950-an, bahasa Jawa dipakai sebagai bahasa pengantar untuk seluruh mata pelajaran. Setiap materi ajar dari mata pelajaran apa saja dapat diberi ilustrasi dengan bahasa Jawa, meskipun terbatas pengenalan kosakata yang dikenal sehari-hari di lingkungan para siswa. Dengan demikian bahasa Jawa diharapkan dapat diberdayakan di dunia aakademik sebagai bahasa ilmiah.

Jenjang Pendidikan Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Jawa Melalui Jalur Sekolah


Pada jenjang pendidikan dasar, pembelajaran bahasa Jawa dipusatkan bagi kepentingan komunikasi verbal sehari-hari saja. Dengan demikian materi ajar jangan seperti pada masa sekolah rakyat di tahun 1950-an. Para siswa jangan dituntut menghafal vokabuler yang rumit-rumit dan bukan keperluan mereka sehari-hari. Pemakalah cenderung mengusulkan dipilih kosakata yang bersifat lokal yang berlaku di daerah masing-masing. Jangan selalu mengacu pada buku ajar masa lalu atau bahasa Jawa keraton yang terlalu rumit dan berlapis-lapis itu.
pemberdayaan bahasa dan sastra jawa

Gramatika atau paramasastra tidak perlu diberikan secara khusus dan rinci, cukup disinggung sedikit, serta tidak menjadi pokok bahasan tersendiri. Pada tingkat dasar, di awal pelajaran, sebaiknya diajarkan bahasa ngoko saja. Semua magfum bahwa kualitas kemanusiaan seseorang tidak hanya diukur dari penggunaan bahasa krama atau ngokonya. Dengan demikian bahan bacaan perlu diformat hanya percakapan antar teman atau saudara se¬kandung. Setelah fasih menggunakan bahasa ngoko barulah penguasaan bahasa ditingkatkan atau dialihkan ke bahasa krama dengan penerapan yang tepat.
Materi ajar ditetapkan yang serba prakris serta harus berorientasi kepada kepentingan anak didik dan dipilih bahasa Jawa lokal; termasuk dialeg daerah siswa masing-masing dan bukan bahasa Jawa keraton saja. Hilangkan sikap konservatif, yang hanya mengacu pada pedoman bahasa baku seperti yang diajarkan para guru di dasawarsa 60-an yang terkesan dipaksakan dan kurang bermanfaat bagi anak-anak Jawa sekarang. Bagi siswa yang memiliki minat besar untuk mendalami bahasa dan sastra Jawa sebaiknya diarahkan untuk memilih dan melanjutkan studi kesarjanan ke Fakultas Sastra (seperti halnya para peminat bahasa Kawi atau Jawa Kuna).

Ambisi penjejalan muatan-muatan non kebahasaan—apalagi tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak didik—terhadap pelajaran bahasa Jawa sebaik¬nya dapat dikekang untuk sementara. Pendidikan sopan santun, sampai hal-hal yang bersifat moral atau etika seyogyanya diselipkan di setiap mata pelajaran, bukan hanya menjadi kewajiban guru pelajaran bahasa/sastra Jawa dan agana saja. Sekali lagi, pelajaran bahasa Jawa untuk bercakap-cakap (conversation) bukan untuk membaca (reading); yang jelas keduanya perlu dibedakan secara tegas. Dengan demikian teks pelajaran dirancang untuk keperluan percakapan sehari-hari saja. Pada kesempatan tertentu para siswa dapat dilatih untuk membuat karangan percakapan pendek dengan tema kehidupan anak-anak sekarang; fungsi guru sebagai motivator dan evaluator.

Pada jenjang pendidikan menengah, anak didik dapat mulai dikenalkan pada bentuk-bentuk bacaan bahasa Jawa yang memiliki kandungan nilai moral, kebersamaan, kesetia¬kawanan, kepahlawanan, keragaman budaya, kesenian, dan sebagainya. Anak didik juga dapat diperkenalkan bacaan yang berasal dari berbagai macam, bentuk, jenis, atau genre tembang Jawa yang sederhana. Bukan hanya macapat saja, tetapi juga tembang dolanan misalnya. Dalam pelajaran teks tembang ini yang terpenting bagaimana kebagusan menembang, baru pemahaman isi dari cakepannya.
Sumber : Bambang Murtiyoso

Demikian materi atau makalah tentang pemberdayaan bahasa dan sastra jawa melalui jalur sekolah
 yang mampu kami rangkum, semoga bermanfaat.
Terima kasih

7 Kebiasaan Buruk Pemicu Kegemukan

7 Kebiasaan Buruk Pemicu Kegemukan  Pemicu Kegemukan  - Siapa yang takut gemuk , kegemukan , ingin badan ideal ?? Memiliki berat badan ya...